PERJALANAN PENDIDIKAN NASIONAL

 


PERJALANAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

Silahkan buka link video berikut! 


        Sebelum Ki Hajar Dewantara membuat sekolah pertama kali di Indonesia khusus untuk pribumi yaitu Taman Siswa, Pendidikan bagi orang-orang pribumi telah ada sejak jaman sebelum penjajahan dari bangsa Eropa. Pendidikan diawali dari masa kerjaan Hindu-Budha, saat itu Pendidikan lebih ditekankan pada pengajaran agama Hindu dan Budha, lalu muncul pedagang islam yang turut menyebarkan agama islam di Hindia Belanda (Nama Indonesia sebelum kemerdekaan). Saat agama islam berkembang, telah ada Pendidikan madrasah dan pesantren yang bertempat di langar, surau, maupun masjid. Selanjutnya muncul bangsa penjajah Eropa Belanda. Indonesia di jajah Belanda dalam waktu yang cukup lama. System Pendidikan yang diterapkan pemerintah Belanda membagi Pendidikan menjadi "dualisme" yaitu Pendidikan untuk bangsa Eropa dan Pendidikan untuk kaum pribumi. Ki Hajar Dewantara sendiri masuk dalam Pendidikan bentukan belanda untuk kaum pribumi tersebut. Karenanya, Ki Hajar Dewantara mempunyai keinginan dan pemikiran bahwa Pendidikan tidak boleh dibedakan, Pendidikan adalah hak segala umat manusia. Sehingga Ki Hajar Dewantara membuka sekolah untuk semua kalangan kaum pribumi yang disebut Taman Siswa.

        Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, selanjutnya Indonesia dijajah oleh Bangsa Jepang. Jepang dengan sigap menghapus dualisme pendidikan bentukan Belanda, dan membuat pendidikan menjadi tempat seluruh kalangan. Jepang membentuk pendidikan dasar yang harus diselesaikan bagi kaum pribumi yang bersekolah yaitu selama 6 tahun yang disebut dengan Sekolah Dasar. System-sistem pendidikan bentukan Jepang masih digunakan hingga saat ini yaitu SD, SMP, dan SMA. Pendidikan setelah kemerdekaan tidak jauh berbeda saat dijajah oleh Jepang, hanya saja sudah menggunakan kurikulum sebagai dasar acuan dalam tujuan Pendidikan di Indonesia, sejak jaman kemerdekaan hingga saat ini,kurikulum Indonesia telah mengalami perubahan terus-menerus. Tujuannya untuk memperbaiki Pendidikan dengan mengikuti perkembangan jaman. Namun menurut saya, kurikulum yang berubah terlalu cepat bahkan belum dievaluasi bagaimana praktiknya dan hasilnya hanya akan membuat pendidik dan siswa menjadi bingung dalam belajarnya. Mereka menjadi tidak focus untuk mengajar dan menerima pembelajaran. Padahal, untuk mempersiapkan anak pada Pendidikan abad 21, tentu bukan hanya materi pelajaran saja yang harus dikuasi siswa. Siswa harus dipersiapkan untuk menghadapi perubahan dalam segala jaman dan teknologi yang bahkan belum ada. Mental anak harus menjadi mental yang pemberani, siap siaga, berwawasan global, kreatif, inovasi, menyelesaikan masalah, namun tetap tidak melupakan Pendidikan karakter yang berbudaya juga berakhal mulia.




        Dari pembahasan antar koneksi materi di atas dapat saya simpulkan hal apa yang harus lakukan untuk saya mewujudkan Pendidikan yang saya inginkan. Hal yang bisa saya terapkan di kelas saya adalah melakukan diagnosis awal untuk mengetahui kemampuan siswa, bakat, dan keinginan siswa dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Menyadari tiap anak punya bakat masing-masing, tidak boleh memaksakan harus bisa matematika atau sains bahkan tidak boleh menjadi guru yang galak. Mengintegrasikan nilai-nilai budaya dalam pembelajarannya. Saya tidak akan focus pada nilai kognitif saja namun nilai-nilai lain bahkan keterampilan juga sangat dibutuhkan. Saya akan merubah mindset saya bahwa guru satu-satunya sumber belajar namun guru adalah salah satu fasilitatot anak untuk membantu anak mengembangkan bakatnya dengan menerapkan pendekatan student center. Menyiapkan Pendidikan bagi anak menghadapi Pendidikan abad 21 yaitu tentang kesadaran budaya, komunikasi, inovasi, penyelesain masalah, bertanggungjawab dengan membuat kelas dinamis sesuai perkembangan dunia saat ini.



Komentar